Cerpen ini sebenernya curahan hati gue dan cerpen ini bisa di sebut kisah nyata gue hahaha. selamat membaca :)
“Aku udah ikhlas Jes!’ tulisku kembali pada balasan di bbm karena dari tadi handphone ku ribut karena bbm masuk darinya “Aku ga yakin kamu ikhlas, aku minta maaf ya Key, aku selama ini ngejauh dari kamu Cuma karena nggak enak aja sama kamu” aku membaca kembali balasan dari Jesica, apa apaan ini dia hampir membuatku membunuhnya, dan sekarang? “Udahlah ya nggak usah ngomong gitu deh, kalo maksud kamu gaenak sama aku karena kamu jadian sama Alvin, dan kamu tunjukin dengan cara ngejauhin aku itu salah besar Jes, kamu dan Alvin itu sama sama pecundang dan aku udah terlanjur sakit hati dan kecewa sama kamu, yang tadinya aku nganggep kamu sebagai sahabat sejati ternyata aku salah, kamu ga jauh dari namanya muka dua! Dan aku benci! Aku benci orang yang bermuka dua!’ jari jemariku kecatan dalam menulis balasan dan langsung kukirim begitu saja, ketika sadar sepertinya aku terlalu berlebihan menanggapi masalah ini yang ada sekarang aku mendekap mukaku ke bantal dihadapanku dan menangis sepuasnya
Aku tersentak dari tidurku, perlahan aku melihat ke jam dinding, jam 1 dini hari, sepertinya aku ketiduran tadi, ketiduran dalam keadaan menangis, dapat ku pastikan wajahku sekarang sangat berantakan, refleks tanganku langsung meraba raba kasur mencari barang yang paling penting untukku, ponselku, ya… aku langsung membangunkan ponselku dari istirahatnya maksudku menghidupkan ponselku yang kumatikan saat menulis pesan tanda kecewa kepada jesica mantan sahabatku itu, saat ponselku sudah hidup seperti sedia kala, langsung ku geserkan kendalinya ke menu dan kubuka app-bbm, tujuanku membuka itu tak lain tak bukan ingin melihat balasan dari jesica, namun tak ada balasan darinya, pesan terakhirku berakhir hanya dengan dibaca, tak peduli akan itu yang ada aku langsung menelusuri kontak bbm ku dan mulai mencari nama “Ricco Pratama” ya.. semoga saja dia terus memperhatikan ponselnya “PING!!”’ tulisku dipesan dan langsung mengirim kepadanya, tak harus menunggu lama pesanku langsung dibalas olehnya “Key, belom tidur? Besok aku gabisa liat cantikmu loh!” balasnya, ah disaat seperti ini ia masih bisa saja membuatku tersenyum dengan indahnya, “Um, ric… aku boleh nanya?” aku tak mau berbasa basi untuk saat ini, ya lebih baik aku langsung ketopik pembicaraan saja setelah ricco membalas langsung kutulis apa yang ingin ku sampaikan kepadanya “Menurutmu salah tidak jika aku tak memaafkan jesica? Sebenarnya berat jika aku ingin melupakan semua hal yang baru saja dia lakukan kepadaku, ya tapi.. berat juga rasanya ketika aku tak memaafkannya” aku berharap Ricco bisa memberikan solusi kepadaku tentang hal ini “Kamu harus maafin dia, Key! Gimanapun juga dia ga selamanya salah kok, gimanapun juga kamu ga boleh lama lama marahan kayak gitu sama dia, dia berhak dapet keadilan maksudku.. kamu harus maafin dia, kamu harus mulai ini dari awal aku yakin dia ngelakuin itu juga ada maksud tertentu demi kebaikan kamu misalnya? Ya kan?” aku masih mempertimbangkan balasan Ricco barusan, Jesica memang butuh dimaafkan oleh aku, tapi.. kenapa untuk saat ini aku belum bisa, seperti masih saja ada dendam yang bergejolak ditubuhku ini membuat diriku ingin selalu menyalahkan Jesica terus menerus.
Kuakhiri obrolanku bersama Ricco, aku tak membalas pesannya yang terakhir barusan hanya kulihat lalu langsung melempar ponselku begitu saja, terus ku pikirkan apa yang harus kulakukan maafkan atau tidak? Aku tak bisa berpikir dengan jernih sekarang sudah sekitar 10 menit kutumpahkan segala perasaanku namun tak ada gunanya aku berpikir sendiri seperti ini, aku sangat membutuhkan Ricco, dan kembali bunyi bbm masuk dari ponselku memecahkan lamunanku kembali, Ricco mengirim 3 pesan sekaligus “Key! Coba seandainya aku ini Jesica apa yang akan kamu lakukan? Key! Kamu butuh Jesica disaat saat seperti ini! Key, Tuhan aja maaf pemaaf masa manusia nggak? Kamu harus inget Key, kamu pasti gabisa berdiri sendiri tanpa panutan seorang teman baik, maksudku pasti kamu akan merindukan masa masa dimana kamu dan Jesica bersama, bagaimanapun Jesica pasti ga mungkin punya niat buruk buat nyakitin hatimu, Jesica pasti masih berpikir dua kali buat nerima Alvin waktu itu aku yakin itu, kamu harus tau Key!! Aku harap kamu bisa memaafkan Jesica dan berteman seperti sedia kala lagi, Jesica lah segalanya. Aku peduli makanya aku ingin mendamaikan kalian berdua! Kamu mau kan key?” pesan yang terakhir terus kupandangi, lalu kubaca saja berulang kali untuk mengerti apa maksud Ricco dibalik semua ini? Haruskah? Baiklah… aku tak punya pilihan sepertinya memang harus kulakukan.. demi kebaikanku dan juga tentunya Jesica
Aku dan Jesica sudah berteman kembali seperti sedia kala, permintaan Ricco tadi malam kulakukan, walaupun aku tau akan sedikit renggang juga jika aku berteman kembali dengan Jesica si muka dua ini, perasaan dendam masih saja kupendam, aku tak berani mengungkapkan rasa dendamku kepada Jesica, yang ada nanti kami malah bertengkar lagi “Key, kekantin yuk. Hari ini aku traktir kamu” seru Jesica kepadaku seraya merangkul pundakku, aku hanya mengangguk dan pergi mengikuti ia berjalan menyusuri aula sampai ke kantin sekolah, “Alvin mana? Nggak biasanya pergi tanpa kamu” kuberanikan diriku untuk bertanya akan hal itu “dia lagi ada rapat basket katanya,” balas Jesica seraya mencomot donat coklat kemulutnya langsung, “Oh” gumamku, “KEY!” panggil seseorang dari belakang yang sudah kuhafal itu suara siapa, ya.. Ricco Pratama laki laki yang akhir akhir ini selalu terbawa dalam mimpi dan juga pikiranku tentunya “hey Ric” seru ku seraya menoleh kebelakang ‘Syukurlah kalian sudah berteman seperti sedia kala, senang aku melihatnya’ ujar Ricco seraya tersenyum sumringah penuh kemenangan seakan akan dia baru menang undian lotre, aku dan jesica hanya tersenyum simpul melihat tingkah Ricco, “Key, malam ini aku mau kamu dandan cantik cantik terus pergi ke Mercusuar Resto aku tunggu jam 19:30, okay?” bisik Ricco cepat lalu langsung pergi berlalu meninggalkanku, “cie, yang diajakin dinner, good luck ya!” seru Jesica seraya menepuk pundakku pelan lalu tersenyum perlahan kearah ku, sepertinya mulai saat ini aku harus bisa memaafkan Jesica setulus hati bukan karena permintaan seseorang. Jes, kumaafkan dirimu, aku memang tak akan bisa kalo tidak bersamamu, gumamku dalam hati
Sekolah sudah bubar sekitar 20 menit yang lalu, Jesica sudah pulang duluan karena harus menghadiri acara syukuran dirumah sepupunya, sedangkan aku tadi baru saja disuruh mrs.Helena untuk bertemu dia lagi, buru buru ku langkahkan kakiku untuk pergi pulang, karena baru ku ingat hari Sabtu ada serial drama korea favoritku, karena terlalu terburu-buru aku sampai tak melihat jalan dan menambrak seseorang, kutundukan kepalaku tapi secara langsung parfum yang mungkin berasal dari tubuh orang yang baru saja ku tabrak ini perlahan menusuk masuk kehidungku, parfum ini.. aku mengenalnya! Ya tak salah lagi, aku menabrak Alvin! oh gosh, “Um, maaf Alvin. aku terlalu terburu-buru” ucapku seraya menunduk kembali, “Ah Keyla! Udah lama ga ngobrol,” kata Alvin dengan nada dibuat buat, seakan akan aku dan Alvin bak seorang teman lama yang sudah lama tak bertemu, padahal dia kan selalu bertemuku, walaupun tak disengaja, “Eh? Haha ya” kupaksakan diriku untuk tersenyum walau sebenarnya malas sekali kalo berurusan dengan laki laki yang baru saja membuat hatiku hancur tak ada bekas, sampai aku harus sibuk browsing setiap hari untuk mengetik di tab search “CARA AMPUH UNTUK MOVEON”
“Hey, Key! Jangan manggut manggut aja, kebetulan banget kamu belum pulang aku ada sesuatu yang mau dibicarakan” Seketika nada bicara Alvin jadi lebih serius dan menatapku tajam, ada apa dengan cowok ini? “Aku.. pengen kamu jadi pacar aku!” *PLAKK* kudaratkan tamparan ke pipi tirus Alvin, bisa bisanya semudah itu ia mengatakan hal seperti itu, mengatakan hal yang dulu aku ingin sekali dengar dari mulut manisnya itu, tapi ia baru mengatakannya setelah dia menyakiti hatiku, menyisingkan sebagian hatiku, dan membuatku membencinya, memang benar dia lak- laki brengsek dan pecundang tentunya “Aku, tidak akan pernah mau menjadi pacarmu setelah apa yang kau lakukan kepadaku, Alvin.. aku tau kamu masih punya hubungan dengan sahabatku Jesica, dan tolong jangan katakan kamu ingin menduakan dia! Aku tak bisa memaafkanmu jika kamu memperlakukan sahabat baikku semena mena, aku pikir cukup aku saja yang diperlakukan semena mena olehmu, tapi tolong jangan Jesica.,Alvin”
Oke, Keyla.. fokus! Jangan pikirkan kejadian tadi, anggap saja angin lewat, Alvin pasti bercanda atau mungkin aku yang salah dengar, kan bisa saja. Ah sudahlah…
Jarum panjang menunjukkan ke angka 12 dan jarum pendek menunjukkan ke angka 7, sudah 2 jam aku memilih baju untuk pergi keluar karena sudah janjian dengan Ricco, tak ada baju yang cocok pikirku karena aku kurang percaya diri, aku sempat bertanya kepada Jesica tadi dan balasannya “pake dress selutut aja, aku yakin Ricco bakal merhatiin betapa naturalnya kamu malam ini” dari tadi kucerna pesan Jesica, ada benarnya juga sih, sepertinya memang harus.
Sudah hampir pukul 19:30 namun aku belum sampai juga, Mama tak bisa mengantar jadi lebih baik aku suruh Pak Yono untuk mengantarku, selama didalam mobil aku terus memperhatikan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki, dress selutut, rambutku ku biarkan tergerai dan kuberi sentuhan sedikit dengan memberi pita diujung rambutku, aku sengaja memakai sepatu flat bewarna cokelat merk garsel itu karena kupikir akan sangat senada dengan dress-ku, sesekali aku memperhatikan diriku ke arah kaca kemudi, Pak Yono spontan berkomentar “Udah cantik kok, non gausah dipikirin” karena salah tingkah yang ada aku hanya tersenyum menanggapi ucapan pak yono, beberapa menit kemudian aku sampai di restoran yang dijanjikan Ricco, Mercusuar Resto, takut membuat Ricco menunggu lama, tanpa basa basi tanpa celingak celinguk lagi kulangkahkan kakiku masuk kedalam dan sudah kulihat Ricco duduk menunggu dengan tenang, malam ini sungguh Ricco tampak sempurna dengan kemeja putihnya yang diberi pelengkap rompi bewarna cokelat membuat kesan lebih gentle lagi dasinya dibiarkan longgar begitu saja, aku terpaku sedikit lama dengan penampilang Ricco malam ini, ah! Keyla! fokus! Jangan ciptakan suasana memalukan untuk malam ini, kuberanikan menuju langsung kemeja Ricco, ‘Maaf, aku terlambat Ricco’ kataku seraya tersenyum nyengir kearah Ricco,
Ricco langsung menatapku penuh takjub dari ujung rambut sampai ujung kaki “hey Ricco? Kenapa? Penampilanku terlalu norak malam ini?” seruku mengacaukan lamunannya “Engg.. enggak! Kamu… sempurna sekali malam ini, Key.. sungguh membuatku hampir tak bernyawa karena kecantikan dan keanggunan kamu” tukas Ricco sampai membuatku tersanjung dengan gombalannya itu, Ah Ricco..
“Key..” panggil Ricco lirih “Hmm?” jawabku seraya tersenyum singkat kearahnya “Sejak tarakan pertama kita, aku sudah menganggumimu, kau matahariku, kau segalanya Key.. aku tersanjung, aku selalu ingin terus bersama dirimu, Key.. dimanapun itu, kau suatu mimpi yang harus kuperjuangkan sekarang, dan sepertinya sekaranglah waktunya untuk meraih dirimu, kamu mau kan jadi penjaga hatiku? Mendengar semua keluh kesahku, menjadi bagian dari hari hariku, dan akan selalu ada saat aku membutuhkanmu, Aku mencintaimu.. Keyla Nataline, sungguh mencintaimu” jelas Ricco panjang lebar seraya menyodorkan mawar merah dan mengelus pelan tanganku, aku tak tau apa yang harus kulakukan sekarang, bibirku bergetar, perasaan senang,haru bercampur menjadi satu, aku tak mau membuat Ricco menunggu harus kujawab sekarang juga! “YA!!! AKU MAU, RICCO PRATAMA. AKU JUGA MENCINTAIMU” kemudian aku memeluk Ricco erat-erat, menangis didekapannya, menangis haru
Inilah kisah cintaku, hal yang dapat aku petik dari penjaga hatiku sekarang adalah bahwa sesungguhnya cinta pada pandangan perama itu nyata... seperti hanya dirinya yang mencintaiku pada pandangan pertama
***
Aku kira derita yang aku hadapi sekarang
telah lengkap, mulai dari di PHPin di selingkuhin sampai di bully
telah aku rasakan. Pahitnya kehidupan telah menjadi makananku setiap hari
sehinga bahagia pun rasanya telah jarang aku rasakan. Namun saat dia datang di
kehidupanku perlahan kebahagiaan itu mulai muncul dan keterpuruku pun mulai
beranjak hiang. Sekarang aku telah menjadi wanita yang ceria, periang dan tidak
ada lagi yang membullyku karena dia
selalu disampingku untuk menjagaku. Hari-hariku pun terasa sangat berwarna.
Mungin ini yang dinamakan jatuh cinta , yang tadinya merasa diri tersiksa ntah
mengapa sekarang tak lagi hampa.
***
Namaku Keyla Nataline
seorang siswi kelas XI dari salah satu seolah favorit di Bumi Rafflesia. Aku
mempunyai seorang sahabat bernama Jesica Amelia. Jesica sahabatku orangnya
bawel, cerewet, tidak bisa diam, dan sangat tomboy tetapi dibalik sifatya yang
nyebelin itu hanya dia lah yang paling bisa mengerti aku “woi Key kantin yuk”
tiba-tiba Jesica datang membuyarkan lamunanku “apaan sih kamu Jes ngejutin aja”
sambutku sewot “ lagi ngelamunin apa tuh, pasti anak basket itu kan” sontak aku
langsung menatap ke arah Jesica yang sedang mencoret buku yang ada didepannya
“udah ah aku laper nih, kantin yuk” sambung Jesica sambil menarik tanganku
“yaudah iya sabar aku beresin buku dulu” aku dan Jesica melangkahkan kaki
menuju ke kantin dan tak disangka ternyata disana ada seseorang yang sangat
familiar bagiku ya Alvin Aprilio Ridho yang tentu saja mengalhkan pandanganku
ke arahnya “Key Jes sini gabung sama aku
aja ga enak makan sendirian” “teraktir ya” jawab jesica “oke, sana pesen makan
sana” Jesica dengan mudahnya bertingkah
seperti ia biasanya sedangkan
aku hanya bisa terdiam lidahku terasa keluh saat berada dihadapannya, andai
Alvin mengetahui hal ini dan aku berani menampakkannya mungkin aku bisa dengan
mudahnya seperti Jesica. Makanan yang dipesan Jesica telah sampai dimeja kami
dan dengan lahapnya dan tanpa malu-malu Jesica langsung membabat habis
makanannya lagi-lagi sangat beda dengan aku. Namun karena terlalu bersemangat
Jesica pun tersedak dan melihat hal itu Alvin pun tertawa sekencang-kencangnya.
Melihat Alvin tertawa aku pun merasa bahagia walaupun bukan aku yang membuat
dia bahagia.
Bel masuk pun berbunyi
dan kamipun berpisah setelah Alvin membayar semua makanan yang kami makan tadi.
“jagain tuh Keyla ntar digigit semut loh secara Keyla kan manis banget gak
kayak kamu udah jelek bau lagi” usil Alvin kepada Jesica. Mendengar hal
tersebut muka ku pun memerah layaknya
udang rebus “apaan sih vin? udah sana
bel udh bunyi tuh masuk sana” kataku malu-malu “hus pergi sana kekelas” Jesica
sewot. Kami berjalan menuju ke kelas “cie yang mukanya merah dibilang manis
sama alvin cie” jesica mencolek daguku “kata siapa merah coba nggak kok”
sangkalku “udah yuk masuk nanti kita dimarah” pelajaran hari itupun aku lewati dengan sangat semangat
karena mendengar perkataan Alvin tadi hingga hari itu dan pelajaran hari itu
pun terasa tak sulit aku lalui. Begitulah cinta yang membuat orang sangat
bersemangat, awalnya.
Hari-hari
yang aku lalui sangatlah berwarna karena
Alvin dan Jesica yang selalu ada disampingku. Namun tiba-tiba Alvin
menghilang selama beberapa hari dan beberapa hari pula aku tidak bersemangat
untuk sekolah, karena Alvin lah yang membuat aku semangat untuk datang ke
sekolah “Jes, Alvin mana ya? Udah tiga hari gak kelihatan” tanyaku cemas “lah
mana aku tau, udah ditelan bumi kali tuh anak” Jesica pun tertawa “apaan sih
Jes, jangan gitu ah” aku pun menyenggol
Jesica yang sedang tertawa “cie yang khawatir Alvin gak ada” “udah ah udah Je,
aku khawatir saa Alvin. Biasanyakan kita makan bertiga ke kantin”
Tiga
hari telah aku lalui tanpa melihat Alvin, namun setelah itu Alvin muncul
kembali dan entah mengapa Alvin begitu berubah, dia lebih sering berdua dengan
Jesica dan Jesica pun lebih memilih pergi dengan Alvin di bandingkan dengan aku
sahabatnya “Jes nanti malem temenin aku beli sepatu yuk” ajakku “maaf Key aku
udah ada janji sama Alvin mau nonton konser METALIKA nanti malem” jawab Jesica
cepat “yaudah deh Jes lain kali aja deh” jawabku lesu. Ada apa mereka berdua?
Mengapa tidak mengajak aku? Mengapa mereka selalu berdua sekarang? Apakah Alvin
suka sama Jesica? Semua pertanyaan itu muncul di benakku.
Hari ini weekend, 2 hari yang lalu mama janji
mengajakku untuk pergi ke mall bersama, lumayan bisa beli barang baru pikirku.
“Ma aku udah siap nihh!” teriakku dari lantai 1 seraya memakaikan pita bewarna
merah ke rambutku yang lurus, Mama akhirnya turun dan langsung menyambar kunci
mobil yang tadinya tergeletak di meja makan “yok, Key” seru mama langsung.
Sebetulnya aku tak ingin pergi hari ini, ya kalian tau
kan kenapa alasannya? Aku masih memikirkan hubungan jesica dan Alvin yang dari
ke hari semakin dekat, membuatku semakin sakit hati saja, jesica juga semakin
hari semakin cuek saja kepadaku, kemarin aku tak sengaja menumpahkan minuman
kemejanya, biasanya kalo aku melakukan hal yang semacam itu jesica tak gampang
marah, malah mengejekku dan selalu memaafkan kecerobohanku ini, tapi hari itu
ia marah besar dan langsung pergi dari hadapanku, anak itu jadi temperamental
sekarang. “hey!
Key kok diem aja, nanti mau beli apa!” tukas Mama mengagetkanku “Nggg… Keyla boleh beli sepatu baru kan ma” kataku terbata bata karena sikap mama barusan, mama
tak boleh tau kalo sebenarnya aku sedang memendam masalah yang sedikit serius
bagiku.
Mega mall, salah satu mall kebanggaan kotaku, ya
Bengkulu. Tempatnya yang strategis dan selalu dikunjungi banyak pengunjung ini,
biasanya aku dan jesica juga suka pergi ke mall ini, kalo sedang ada waktu
luang tapi hari ini aku pergi bersama mama karena mungkin jesica masih marah
kepadaku, mungkin juga dia sedang janjian dengan Alvin, huh! Sebaiknya hari ini
aku harus menjauhkan pikiranku dari mereka berdua! Dan aku juga harus
berprasangka baik kalo sebenarnya jesica dan Alvin hanya teman biasa, aku tak
akan mau menuduh sahabat baikku sembarangan, bagaimanapun juga jesica
bertingkah seperti itu kemarin mungkin sedang ada sesuatu yang sulit untuk
dibicarakan makanya terbawa emosi sendiri, Ah… hari ini sebaiknya aku santai
santai saja bersama mama.
“Ma! Beliin aku sepatu Nike ya!” kataku memohon kepada mama, aku mulai menyukai jenis
jenis sepatu seperti ini, kadang aku suka sekali melihat Alvin memakai sepatu Nike
miliknya yang bewarna hitam
bercorak itu, aku juga
ingin punya sepatu seperti itu, Hihi.. “Kok gabiasanya kamu milih sepatu seperti ini? Biasanya
kamu kan suka pake sepatu flat” Ujar mama heran dan langung menatapku penuh
pertanyaan “Gak
kok, Keyla cuma tertarik aja sama sepatu ginian, lagian banyak kok ma temen
Keyla yang pake sepatu gini, kan lagi tren ma, boleh ya?” seruku kepada mama berharap mama membolehkanku untuk
memiliki sepatu ini, untungnya mama mengangguk mengiyakan dan langsung membayar
sepatu kekasir. Setelah cukup lama berkeliling mall membeli beberapa baju baru
dan barang lainnya, aku dan mama memutuskan untuk pergi ke food court dan memesan makanan, namun ada sesuatu yang mengganjal
ketika mataku menjuru kesekeliling food
court, ya tak salah lagi itu jesica sahabat baikku dan… Alvin.
“Ma, pulang aja yuk. Keyla capek banget makanannya
dibungkus aja gausah makan disini” timpalku kepada Mamaku spontan, aku sudah tak tahan
lagi melihat mereka berdua apalagi aku juga tak sengaja melihat Alvin mengelus
rambut Jesica lembut, hatiku semaki remuk saja dibuat mereka, tak bisa menahan
lagi yang ada air mataku jatuh dari kelopak mataku langsung membasahi pipiku,
aku tak mau kalo mama melihatku dengan keadaan seperti ini, namun terlambat
mama sudah melihat wajahku yang sudah penuh dengan air mata “Keyla! Kamu kenapa nangis?” Tanya mama dengan tatapan penuh keibuannya itu, ia
langsung menyingkirkan air yang sedikit menggenang di sekitar mataku, lalu
refleks memelukku, aku langsung merasakan kehangatan yang diciptakan mama
sekarang, kehangatan pelukan seorang ibu sepertinya mama mengerti apa yang
kurasakan ketika melihat Jesica teman baikku itu bermesraan dengan Alvin lelaki yang sudah lama ku taksir, lagipula Jesica tau kalo aku menyukai Alvin, dan selalu berusaha
untuk mendekatkanku dengan Alvin, namun sekarang? Kenapa Jesica lakukan itu
kepadaku? Jadi ini arti persahabatan kami selama ini? Jadi ini balasan sikapku
yang selalu perhatian, baik kepadanya? Jadi ini yang namanya TEMAN MAKAN TEMAN?
Jesica memang tak mengerti perasaanku.. harusnya aku tau dari dulu dia juga
menyukai Alvin, dan harusnya aku tau dari dulu Jesica menjadikan aku umpan
untuk mendekati Alvin, dan aku harusnya juga tau Alvin dan Jesica sudah lama
saling menyukai…
***
Aku berlari kecil menuju perpustakaan, hari ini mrs.
Helena guru bahasa inggris kami menyuruhku untuk menemuinya di perpustakaan,
mungkin ada sedikit masalah yang harus dibicarakan kepadaku, karena terburu
buru aku sempat menabrak seseorang “Ups maaf” ucapku kepadanya, dan langsung kutolehkan wajahku
yang tadinya menunduk kepada seseorang yang mungkin sedang menatapku ini dan… Oh my gosh! “Tidak apa, aku juga minta maaf” serunya seraya tersenyum lirih kepada diriku, lalu
langsung berlalu meninggalkanku, aku tak bisa berkata satu patah kata pun lagi,
senyumannya membuatku meleleh langsung begitu saja, siapa dia? Aku belum pernah
melihat dirinya sebelumnya, mungkin dia anak baru ya.. bisa saja kan.
“Jes, aku boleh minjam catatanmu nggak, tadi kan aku
keluar untuk ketemu sama mrs. Helena, jadi nggak sempet nyatat” kataku kepada Jesica berharap Jesica tak lagi marah
kepada diriku, tapi seharusnya aku yang marah dan kecewa kepada dirinya “Maaf ya, catatanku mau kupinjamin sama si Alvin, aku
udah janji soalnya” jelas Jesica seraya bangkit dari bangkunya lalu pergi
keluar kelas. Apa lagi yang harus kulakukan? Kenapa jesica jadi bersikap
seperti ini kepadaku?
“HEY! HEY AYOO KELUAR ADA BERITA PENTING NIHH, IT U
ALVIN KAPTEN BASKET MAU NGUMUMIN SESUATUU! LAGI HEBOH BANGET DILAPANGAN!” seru temanku Lita, karena penasaran aku langsung
berlari keluar kelas menuju lapangan dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Alvin menyodorkan bunga mawar seraya berjongkok memohon kepada… Jesica yang
dulunya aku sebut sahabat sejati namun ternyata tidak, dan kalian tau apa yang
dilakukan Alvin? Ya.. tak salah lagi itulah yang dilakukannya… Lagi lagi aku
tak bisa menahan air mataku jatuh, saat itu kubiarkan saja walaupun semua orang
akan menatap heran, aku langsung berlari menghadap kebelakang namun lagi lagi,
aku menabrak seseorang, “Ah maaf” ucapku, dan lagi lagi.. aku menabrak laki laki itu..
laki laki yang memberikan senyumannya itu, laki laki yang membuatku meleleh
karna senyumannya itu, “Hey kamu kenapa?, um.. Keyla Nataline” Tanya nya seraya melihat namaku yang tertera di
seragam dan.. aku juga sempat melihat namanya “Ricco Pratama’’ sebuah nama yang sangat cocok untuk
laki laki yang berdiri dihadapanku sekarang
***
“Ohoh, aku mengerti Key” kata Ricco
sambil menghapus air mataku “aku cuma gak nyangka aja Jesica yang dulu aku
anggap sebagai sahabat tapi ternyata menuusukku dari belakang” air mataku pun
tak henti-hentinya menetes “udah deh Key cewek cantik gak boleh nangis ya nanti
cantiknya dibawa air mata” rayu Ricco sambil menghapus air mataku lagi, aku pun
hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Ricco barusan. Aku dan Ricco pun
larut dalam canda tawa. Ricco lelaki yang baru saja aku kenal bisa membuat aku
nyaman di dekatnya dan membuat beban pikiranku sedikit ringan, walaupun aku
masih saja memikirkan Alvin... ya Alvin
Sulit
rasanya untuk melupakan Alvin, sulit untuk merelakan Alvin bersama Jesica sahabatku. Tapi ntah
mengapa Ricco selalu datang untuk menghiburku, aku masih tidak bisa menerima
kenyataan kalau cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku selalu melihat mereka
bersama dan hal itu membuat rasa sakit di hatiku semakin menjadi-jadi. Dan
setiap kali aku melihat mereka bersama selalu ada Ricco di sampingku. Seiring berjalannya waktu Ricco mampu membuatku larut
dalam kesenangan dan sedikit melupakan laki laki itu.. maksudku Alvin, dan
Ricco juga selalu bersedia menjadi teman curhatku, berusaha menjadi kakak
bagiku, dan selalu berusaha menjadi yang terbaik bagiku, Ricco bagaikan pengganti
Jesica dan juga.. aku menganggumi Ricco. Sungguh.
Suara chat masuk dari facebook memecah keheninganku di
kamar, aku buru buru mengalihkan pandangan ke laptop, ada obrolan masuk, aku
langsung mengklik obrolan yang masuk, Alvin Aprillio Ridho “Cewek!” tulisnya,
apa? Aku tidak salah? Alvin menyapaku di obrolan? Ada apa ini? Setelah cukup
banyak topik yang dibicarakan Alvin, dan sekarang tak tau mengapa jariku ingin
mengetik sesuatu ya, secara langsung aku sudah mengirim pesan untuk Alvin, yang
berisi “Kok kamu gak biasanya ngechat aku? Jesica kemana?” karena takut akan jawaban Alvin
nantinya yang ada aku terus menutupi mukaku dengan rasa khawatir yang amat
sangat, tiba tiba suara chat masuk kembali berdering dari laptop dan langsung
kuberanikan diriku untuk melihat jawaban dari Alvin, “Gak apa aku Cuma mau
minta maaf aja, sebenarnya ini aku Jesica’’ DEG!, aku tak tau menahu dan
sekarang karena sudah tak tahan aku keluar dari fb ku menutup laptop dan
kembali handphone ku yang sekarang berbunyi terus menerus tanda ada bbm masuk
Cerpen ini sebenernya curahan hati gue dan cerpen ini bisa di sebut kisah nyata gue hahaha. selamat membaca :)
“Aku udah ikhlas Jes!’ tulisku kembali pada balasan di bbm karena dari tadi handphone ku ribut karena bbm masuk darinya “Aku ga yakin kamu ikhlas, aku minta maaf ya Key, aku selama ini ngejauh dari kamu Cuma karena nggak enak aja sama kamu” aku membaca kembali balasan dari Jesica, apa apaan ini dia hampir membuatku membunuhnya, dan sekarang? “Udahlah ya nggak usah ngomong gitu deh, kalo maksud kamu gaenak sama aku karena kamu jadian sama Alvin, dan kamu tunjukin dengan cara ngejauhin aku itu salah besar Jes, kamu dan Alvin itu sama sama pecundang dan aku udah terlanjur sakit hati dan kecewa sama kamu, yang tadinya aku nganggep kamu sebagai sahabat sejati ternyata aku salah, kamu ga jauh dari namanya muka dua! Dan aku benci! Aku benci orang yang bermuka dua!’ jari jemariku kecatan dalam menulis balasan dan langsung kukirim begitu saja, ketika sadar sepertinya aku terlalu berlebihan menanggapi masalah ini yang ada sekarang aku mendekap mukaku ke bantal dihadapanku dan menangis sepuasnya
Aku tersentak dari tidurku, perlahan aku melihat ke jam dinding, jam 1 dini hari, sepertinya aku ketiduran tadi, ketiduran dalam keadaan menangis, dapat ku pastikan wajahku sekarang sangat berantakan, refleks tanganku langsung meraba raba kasur mencari barang yang paling penting untukku, ponselku, ya… aku langsung membangunkan ponselku dari istirahatnya maksudku menghidupkan ponselku yang kumatikan saat menulis pesan tanda kecewa kepada jesica mantan sahabatku itu, saat ponselku sudah hidup seperti sedia kala, langsung ku geserkan kendalinya ke menu dan kubuka app-bbm, tujuanku membuka itu tak lain tak bukan ingin melihat balasan dari jesica, namun tak ada balasan darinya, pesan terakhirku berakhir hanya dengan dibaca, tak peduli akan itu yang ada aku langsung menelusuri kontak bbm ku dan mulai mencari nama “Ricco Pratama” ya.. semoga saja dia terus memperhatikan ponselnya “PING!!”’ tulisku dipesan dan langsung mengirim kepadanya, tak harus menunggu lama pesanku langsung dibalas olehnya “Key, belom tidur? Besok aku gabisa liat cantikmu loh!” balasnya, ah disaat seperti ini ia masih bisa saja membuatku tersenyum dengan indahnya, “Um, ric… aku boleh nanya?” aku tak mau berbasa basi untuk saat ini, ya lebih baik aku langsung ketopik pembicaraan saja setelah ricco membalas langsung kutulis apa yang ingin ku sampaikan kepadanya “Menurutmu salah tidak jika aku tak memaafkan jesica? Sebenarnya berat jika aku ingin melupakan semua hal yang baru saja dia lakukan kepadaku, ya tapi.. berat juga rasanya ketika aku tak memaafkannya” aku berharap Ricco bisa memberikan solusi kepadaku tentang hal ini “Kamu harus maafin dia, Key! Gimanapun juga dia ga selamanya salah kok, gimanapun juga kamu ga boleh lama lama marahan kayak gitu sama dia, dia berhak dapet keadilan maksudku.. kamu harus maafin dia, kamu harus mulai ini dari awal aku yakin dia ngelakuin itu juga ada maksud tertentu demi kebaikan kamu misalnya? Ya kan?” aku masih mempertimbangkan balasan Ricco barusan, Jesica memang butuh dimaafkan oleh aku, tapi.. kenapa untuk saat ini aku belum bisa, seperti masih saja ada dendam yang bergejolak ditubuhku ini membuat diriku ingin selalu menyalahkan Jesica terus menerus.
Kuakhiri obrolanku bersama Ricco, aku tak membalas pesannya yang terakhir barusan hanya kulihat lalu langsung melempar ponselku begitu saja, terus ku pikirkan apa yang harus kulakukan maafkan atau tidak? Aku tak bisa berpikir dengan jernih sekarang sudah sekitar 10 menit kutumpahkan segala perasaanku namun tak ada gunanya aku berpikir sendiri seperti ini, aku sangat membutuhkan Ricco, dan kembali bunyi bbm masuk dari ponselku memecahkan lamunanku kembali, Ricco mengirim 3 pesan sekaligus “Key! Coba seandainya aku ini Jesica apa yang akan kamu lakukan? Key! Kamu butuh Jesica disaat saat seperti ini! Key, Tuhan aja maaf pemaaf masa manusia nggak? Kamu harus inget Key, kamu pasti gabisa berdiri sendiri tanpa panutan seorang teman baik, maksudku pasti kamu akan merindukan masa masa dimana kamu dan Jesica bersama, bagaimanapun Jesica pasti ga mungkin punya niat buruk buat nyakitin hatimu, Jesica pasti masih berpikir dua kali buat nerima Alvin waktu itu aku yakin itu, kamu harus tau Key!! Aku harap kamu bisa memaafkan Jesica dan berteman seperti sedia kala lagi, Jesica lah segalanya. Aku peduli makanya aku ingin mendamaikan kalian berdua! Kamu mau kan key?” pesan yang terakhir terus kupandangi, lalu kubaca saja berulang kali untuk mengerti apa maksud Ricco dibalik semua ini? Haruskah? Baiklah… aku tak punya pilihan sepertinya memang harus kulakukan.. demi kebaikanku dan juga tentunya Jesica
Aku dan Jesica sudah berteman kembali seperti sedia kala, permintaan Ricco tadi malam kulakukan, walaupun aku tau akan sedikit renggang juga jika aku berteman kembali dengan Jesica si muka dua ini, perasaan dendam masih saja kupendam, aku tak berani mengungkapkan rasa dendamku kepada Jesica, yang ada nanti kami malah bertengkar lagi “Key, kekantin yuk. Hari ini aku traktir kamu” seru Jesica kepadaku seraya merangkul pundakku, aku hanya mengangguk dan pergi mengikuti ia berjalan menyusuri aula sampai ke kantin sekolah, “Alvin mana? Nggak biasanya pergi tanpa kamu” kuberanikan diriku untuk bertanya akan hal itu “dia lagi ada rapat basket katanya,” balas Jesica seraya mencomot donat coklat kemulutnya langsung, “Oh” gumamku, “KEY!” panggil seseorang dari belakang yang sudah kuhafal itu suara siapa, ya.. Ricco Pratama laki laki yang akhir akhir ini selalu terbawa dalam mimpi dan juga pikiranku tentunya “hey Ric” seru ku seraya menoleh kebelakang ‘Syukurlah kalian sudah berteman seperti sedia kala, senang aku melihatnya’ ujar Ricco seraya tersenyum sumringah penuh kemenangan seakan akan dia baru menang undian lotre, aku dan jesica hanya tersenyum simpul melihat tingkah Ricco, “Key, malam ini aku mau kamu dandan cantik cantik terus pergi ke Mercusuar Resto aku tunggu jam 19:30, okay?” bisik Ricco cepat lalu langsung pergi berlalu meninggalkanku, “cie, yang diajakin dinner, good luck ya!” seru Jesica seraya menepuk pundakku pelan lalu tersenyum perlahan kearah ku, sepertinya mulai saat ini aku harus bisa memaafkan Jesica setulus hati bukan karena permintaan seseorang. Jes, kumaafkan dirimu, aku memang tak akan bisa kalo tidak bersamamu, gumamku dalam hati
Sekolah sudah bubar sekitar 20 menit yang lalu, Jesica sudah pulang duluan karena harus menghadiri acara syukuran dirumah sepupunya, sedangkan aku tadi baru saja disuruh mrs.Helena untuk bertemu dia lagi, buru buru ku langkahkan kakiku untuk pergi pulang, karena baru ku ingat hari Sabtu ada serial drama korea favoritku, karena terlalu terburu-buru aku sampai tak melihat jalan dan menambrak seseorang, kutundukan kepalaku tapi secara langsung parfum yang mungkin berasal dari tubuh orang yang baru saja ku tabrak ini perlahan menusuk masuk kehidungku, parfum ini.. aku mengenalnya! Ya tak salah lagi, aku menabrak Alvin! oh gosh, “Um, maaf Alvin. aku terlalu terburu-buru” ucapku seraya menunduk kembali, “Ah Keyla! Udah lama ga ngobrol,” kata Alvin dengan nada dibuat buat, seakan akan aku dan Alvin bak seorang teman lama yang sudah lama tak bertemu, padahal dia kan selalu bertemuku, walaupun tak disengaja, “Eh? Haha ya” kupaksakan diriku untuk tersenyum walau sebenarnya malas sekali kalo berurusan dengan laki laki yang baru saja membuat hatiku hancur tak ada bekas, sampai aku harus sibuk browsing setiap hari untuk mengetik di tab search “CARA AMPUH UNTUK MOVEON”
“Hey, Key! Jangan manggut manggut aja, kebetulan banget kamu belum pulang aku ada sesuatu yang mau dibicarakan” Seketika nada bicara Alvin jadi lebih serius dan menatapku tajam, ada apa dengan cowok ini? “Aku.. pengen kamu jadi pacar aku!” *PLAKK* kudaratkan tamparan ke pipi tirus Alvin, bisa bisanya semudah itu ia mengatakan hal seperti itu, mengatakan hal yang dulu aku ingin sekali dengar dari mulut manisnya itu, tapi ia baru mengatakannya setelah dia menyakiti hatiku, menyisingkan sebagian hatiku, dan membuatku membencinya, memang benar dia lak- laki brengsek dan pecundang tentunya “Aku, tidak akan pernah mau menjadi pacarmu setelah apa yang kau lakukan kepadaku, Alvin.. aku tau kamu masih punya hubungan dengan sahabatku Jesica, dan tolong jangan katakan kamu ingin menduakan dia! Aku tak bisa memaafkanmu jika kamu memperlakukan sahabat baikku semena mena, aku pikir cukup aku saja yang diperlakukan semena mena olehmu, tapi tolong jangan Jesica.,Alvin”
Oke, Keyla.. fokus! Jangan pikirkan kejadian tadi, anggap saja angin lewat, Alvin pasti bercanda atau mungkin aku yang salah dengar, kan bisa saja. Ah sudahlah…
Jarum panjang menunjukkan ke angka 12 dan jarum pendek menunjukkan ke angka 7, sudah 2 jam aku memilih baju untuk pergi keluar karena sudah janjian dengan Ricco, tak ada baju yang cocok pikirku karena aku kurang percaya diri, aku sempat bertanya kepada Jesica tadi dan balasannya “pake dress selutut aja, aku yakin Ricco bakal merhatiin betapa naturalnya kamu malam ini” dari tadi kucerna pesan Jesica, ada benarnya juga sih, sepertinya memang harus.
Sudah hampir pukul 19:30 namun aku belum sampai juga, Mama tak bisa mengantar jadi lebih baik aku suruh Pak Yono untuk mengantarku, selama didalam mobil aku terus memperhatikan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki, dress selutut, rambutku ku biarkan tergerai dan kuberi sentuhan sedikit dengan memberi pita diujung rambutku, aku sengaja memakai sepatu flat bewarna cokelat merk garsel itu karena kupikir akan sangat senada dengan dress-ku, sesekali aku memperhatikan diriku ke arah kaca kemudi, Pak Yono spontan berkomentar “Udah cantik kok, non gausah dipikirin” karena salah tingkah yang ada aku hanya tersenyum menanggapi ucapan pak yono, beberapa menit kemudian aku sampai di restoran yang dijanjikan Ricco, Mercusuar Resto, takut membuat Ricco menunggu lama, tanpa basa basi tanpa celingak celinguk lagi kulangkahkan kakiku masuk kedalam dan sudah kulihat Ricco duduk menunggu dengan tenang, malam ini sungguh Ricco tampak sempurna dengan kemeja putihnya yang diberi pelengkap rompi bewarna cokelat membuat kesan lebih gentle lagi dasinya dibiarkan longgar begitu saja, aku terpaku sedikit lama dengan penampilang Ricco malam ini, ah! Keyla! fokus! Jangan ciptakan suasana memalukan untuk malam ini, kuberanikan menuju langsung kemeja Ricco, ‘Maaf, aku terlambat Ricco’ kataku seraya tersenyum nyengir kearah Ricco,
Ricco langsung menatapku penuh takjub dari ujung rambut sampai ujung kaki “hey Ricco? Kenapa? Penampilanku terlalu norak malam ini?” seruku mengacaukan lamunannya “Engg.. enggak! Kamu… sempurna sekali malam ini, Key.. sungguh membuatku hampir tak bernyawa karena kecantikan dan keanggunan kamu” tukas Ricco sampai membuatku tersanjung dengan gombalannya itu, Ah Ricco..
“Key..” panggil Ricco lirih “Hmm?” jawabku seraya tersenyum singkat kearahnya “Sejak tarakan pertama kita, aku sudah menganggumimu, kau matahariku, kau segalanya Key.. aku tersanjung, aku selalu ingin terus bersama dirimu, Key.. dimanapun itu, kau suatu mimpi yang harus kuperjuangkan sekarang, dan sepertinya sekaranglah waktunya untuk meraih dirimu, kamu mau kan jadi penjaga hatiku? Mendengar semua keluh kesahku, menjadi bagian dari hari hariku, dan akan selalu ada saat aku membutuhkanmu, Aku mencintaimu.. Keyla Nataline, sungguh mencintaimu” jelas Ricco panjang lebar seraya menyodorkan mawar merah dan mengelus pelan tanganku, aku tak tau apa yang harus kulakukan sekarang, bibirku bergetar, perasaan senang,haru bercampur menjadi satu, aku tak mau membuat Ricco menunggu harus kujawab sekarang juga! “YA!!! AKU MAU, RICCO PRATAMA. AKU JUGA MENCINTAIMU” kemudian aku memeluk Ricco erat-erat, menangis didekapannya, menangis haru
Inilah kisah cintaku, hal yang dapat aku petik dari penjaga hatiku sekarang adalah bahwa sesungguhnya cinta pada pandangan perama itu nyata... seperti hanya dirinya yang mencintaiku pada pandangan pertama
***

Baca cara memilih laptop yang baik http://cariartikelmu.blogspot.co.id/2016/02/tips-memilih-laptop-yang-baik-bagi-mahasiswa.html
BalasHapus